1. Syirik
Syirik adalah perbuatan menyembah
atau menyekutukan sesuatu selain Allah dan perbuatan ini adalah dosa besar.
Syirik adalah perbuatan dosa yang tidak dapat diampuni oleh Allah. Syirik dapat
dikategorikan menjadi syirik kecil dan syirik besar. Pelaku syirik besar akan
kekal dan tidak akan pernah keluar dari neraka walaupun orang tersebut adalah
ahli ibadah. Orang tersebut harus bertaubat dan tidak mengulanginya agar
dosanya diampuni oleh Allah. Contoh dari syirik adalah: Menyembah sesuatu
selain Allah, Mempersekutukan Allah, dan Mempertuhankan Manusia. Firman
Allah:
“Maka
apakah orang kafir (musyrik) menyangka bahawa mereka (dapat) mengambil
hamba-hamba-Ku menjadi penolong selain Aku? Sesungguhnya Kami telah menyediakan
neraka jahanam tempat tinggal bagi orang-orang kafir(musyrik)” [Qs Al
Kahfi:102].
“Tidak
pantas bagi nabi dan orang-orang yang beriman memohonkan ampunan kepada Allah
bagiorang-orang musrik. Sekalipun orang-orang musrik itu kaum kerabatnya.
Setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musrik itu penghuni neraka
Jahannam” [Qs At Taubah:113].
Sabda
Rasulullah:
“Sesuatu
yang paling aku takutkan menimpa kamu sekalian ialah syrik yang paling kecil.
Ketika Nabi SAW ditanya, “Apa syrik kecil itu?”, Nabi SAW bersabda ”Ri’yak”
Imam Muslim meriwayatkan, yang
datangnya dari Nabi SAW baginda bersabda, ”Barangsiapa yang menjumpai Allah
(meninggal dunia) dalam keadaan tidak mempersekutukanNya dengan sesuatu apapun,
dimasuk syurga dan barangsiapa menjumpai Allah keadaan mempersekutukanNya
dengan sesuatu, dia masuk neraka”
2. Durhaka
kepada kedua orang tua
Durhaka kepada kedua orang tua
diposisikan sebagai dosa besar setelah syirik. Yang demikian itu karena
perintah untuk berbuat baik kepada orang tua sering diiringkan dan diletakkan
setelah perintah untuk beribadah dan mengesakan ibadahnya tersebut kepada
Allah. Ini menunjukkan besarnya hak orang tua untuk mendapatkan perlakuan yang
baik dari anak-anaknya.
Allah
‘Azza wa Jalla berfirman (artinya):
“Dan
sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan Nya dengan sesuatu apapun,
dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, dan orang-orang
miskin, tengaga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba
sahaya yang kamu miliki. Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong
dan membanggakan diri” (An Nisa’: 36).
Begitu mulianya orang tua di mata
Allah, sampai-sampai hak orang tua sangatlah besar. Kita dituntut untuk
merendahkan suara kita dan menjaga ucapan kita agar tidak sampai menyinggung
hati orang tua kita. Allah berfirman:
“Dan
Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan
hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah
seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam
pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya
perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah
kepada mereka perkataan yang mulia” [Al-Israa' : 23].
Dan
orang yang berkata kepada dua orang ibu bapaknya : "Cis, bagi kamu
keduanya, apakah kamu memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan,
padahal telah berlalu beberapa ummat sebelumku ?". Lalu kedua ibu bapaknya
memohon pertolongan kepada Allah seraya mengatakan : "Celaka kamu,
berimanlah ! Sesungguhnya janji Allah adalah benar". Lalu dia berkata :
"Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu". Mereka itulah
orang-orang yang telah pasti ketetapan (adzab) atas mereka bersama ummat-ummat
yang telah berlalu sebelumnya dari jin dan manusia. Sesungguhnya mereka adalah
orang-orang yang merugi. [Al-Ahqaf : 17-18]
3. Dusta
Dusta adalah mengabarkan sesuatu
yang menyelisihi kenyataannya, baik sengaja atau tidak sengaja. Orang yang
berbohong dengan tidak sengaja, maka tidak berdosa, akan tetapi ia akan
berdosa apabila melakukannya dengan sengaja. Dusta merupakan perbuatan zalim,
dan Allah mengancam tidak akan memberikan petunjuk bagi pendusta.
“Dan
dari unta sepasang dan dari sapi sepasang dan katakanlah apakah yang diharamkan
dua yang jantan atau yang betina, atau yang ada dalam kandungan dua betinanya.
Apakah kamu menjadi saksi ketika Allah menetapkan ini bagimu. Siapakah yang
lebih dzalim dari pada orang-orang yang mengadakan terhadap Allah untuk
menyesatkan orang-orang tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Allah tidakakan memberi
petunjuk kepada orang-orang yang dzalim” (Al-An’aam: 144).
“Maka
siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta
terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan?” Sesungguhnya Allah
tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” (Al-An’aam: 144)
Terdapat banyak sekali dalil
tentang larangan berbuat dusta yang tercantum di dalam Al quran, kita dituntut
untuk menjaga lidah kita dari ucapan dusta. Dan jangan sekali-kali kita
mengucapkan kebohongan atas nama Allah dan RasulNya. Firman Allah:
“Dan
janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara
dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap
Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah
tiadalah beruntung.” (An-Nahl: 116).
4. Murtad
Allah sangat murka terhadap orang-orang
murtad dan melakukannya dengan kesadaran, namun jika kemurtad annya Karena
dipaksa dan dia masih beriman kepada Allah, dia tidak mendapatkan kemurkaanNya.
Firman Allah:
Barang
siapa yang kafir kepada Allâh setelah dia beriman (dia mendapat kemurkaan
Allâh), kecuali orang yang dipaksa kafir, padahal hatinya tetap tenang dalam
beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk
kekafiran, maka kemurkaan Allâh menimpanya dan baginya adzab yang besar
[an-Nahl/16:106]
Sebanyak apapun ibadah seseorang,
tidak akan pernah bermanfaat bagi pelakunya, bahkan berguguran tanpa ada hasil
yang bisa dipetik, apabila di kemudian hari dia kufur kepada Allâh. Dan tempat
kembalinya adalah neraka kekal abadi di dalamnya, jika mati dalam kekufuran.
Allâh berfirman:
“Barang
siapa murtad diantara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka
mereka itu sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah
penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya [al-Baqarah/2:217]”.
5.
Zina
Kita sebagai umat Islam dilarang
untuk mendekati apalagi sampai melakukan zina. Allah sendirimelarang perbuatan
zina dalam firmannya:
“Dan
janganlah kamu mendekati zina; zina itu sungguh merupakan perbuatan yang keji
dan suatu jalan yang buruk “[QS Al Isra' 17:32].
“Katakanlah
Muhammad Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, yang terlihat dan yang
tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan zalim tanpa alasan yang benar, dan (mengharamkan)
kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu, sedangkan Dia tidak menurunkan
alasan untuk itu dan (mengharamkan) kamu membicarakan tentang Allah apa yang
tidak kamu ketahui" [QS Al A'raaf 7:33].
Dalam hukum Islam, apabila terdapat
laki-laki dan perempuan yang melakukan zina. Baik bagi laki-laki atau perempuan
wajib dilakukan dera padanya, masing-masing 100 dera. Firman Allah:
“Perempuan
yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari
keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya
mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah,
dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh
sekumpulan orang-orang yang beriman [QS An Nuur 24:2]”.
No comments:
Post a Comment